Ayah ASI

Ade Hikma

Ade Hikma

4 jam yang lalu

6 menit baca
Ayah ASI

Dr. Hermansyah, SKM.,MPH (Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh) Foto: Dok.Ist

Oleh: Dr. Hermansyah, SKM.,MPH (Dosen Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh)

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama dan terbaik bagi bayi yang mutlak serta tidak dapat digantikan oleh asupan lain. Secara medis, laktasi eksklusif didefinisikan sebagai pemberian hanya ASI kepada bayi sejak lahir hingga usia enam bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti air putih, susu formula, madu, dan teh, maupun makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur, biskuit, dan nasi tim. Pengecualian pemakaian substansi luar hanya berlaku bagi pemakaian klinis berupa obat-obatan, vitamin, dan suplemen mineral medis.

Tujuan utama dari pola pemenuhan gizi ini adalah mengoptimalkan perkembangan sistem biologis serta memperkuat daya tahan tubuh anak. Bagi bayi, ASI bermanfaat masif dalam mencegah infeksi mematikan seperti diare dan pneumonia, mendukung kecerdasan kognitif, serta menangkal risiko alergi. 

Sementara bagi ibu, menyusui membantu merangsang kontraksi rahim pascamelahirkan, mempercepat penurunan berat badan secara alami, serta menurunkan risiko kanker payudara. Setelah melewati fase enam bulan, bayi mulai membutuhkan Makanan Pendamping ASI (MPASI), namun pemberian ASI tetap sangat dianjurkan untuk dilanjutkan hingga anak menginjak usia dua tahun.

Meskipun manfaat biologisnya sangat besar, pemenuhan hak bayi ini masih menghadapi tantangan berat di lapangan. Secara nasional, angka cakupan laktasi eksklusif kerap bergerak fluktuatif di bawah target ideal 80%, yakni hanya berkisar antara 55% hingga 67% dalam beberapa tahun terakhir. Di Provinsi Aceh sendiri, data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa cakupan wilayah ini pada tahun 2025 baru menyentuh angka 68,61%. Rendahnya capaian tersebut dipengaruhi oleh rantai kausalitas yang kompleks, mulai dari tingkat pengetahuan ibu yang terbatas, minimnya dukungan lingkungan, hingga faktor adat budaya setempat.

Sebagai contoh dalam tatanan sosiokultural masyarakat Aceh, terdapat tradisi ritual peucicap yang dilaksanakan saat bayi berusia tujuh hari bersamaan dengan pemberian nama dan cukur rambut. Pada momentum ritual ini, bayi secara simbolis diperkenalkan dengan aneka rasa makanan. Jika tradisi ini tidak disikapi dengan bijak dan tanpa disertai edukasi kesehatan yang memadai, intervensi dini tersebut berpotensi memotong lini masa ASI eksklusif sebelum waktunya.

Ditinjau dari aspek teologis, hukum Islam memandang proses menyusui bukan sekadar beban personal atau kewajiban tunggal seorang istri, melainkan sebuah tanggung jawab kolektif dalam menjaga keutuhan domestik. Hal ini diamanatkan secara gamblang dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 233 yang menegaskan bahwa para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.

Ayat tersebut menekankan pentingnya musyawarah, mufakat, dan kerelaan kedua belah pihak yaitu suaminya jika ingin melakukan penyapihan sebelum masa laktasi genap dua tahun. Konteks keadilan gender dalam rumah tangga diabadikan lewat kalimat ringkas bahwa janganlah seorang ibu dibuat menderita karena anaknya dan jangan pula ayahnya dibuat menderita karena anaknya. 

Lebih lanjut, kewajiban ayah diwujudkan lewat pemenuhan nafkah lahiriah berupa penyediaan makanan dan pakaian yang patut bagi sang ibu. Membantu meringankan beban istri di area domestik merupakan sunnah nyata yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, sebagaimana penuturan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bahwa Rasulullah senantiasa berada dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu shalat maka beliaupun pergi menunaikannya.

Secara psikologis, keberhasilan laktasi sangat bergantung pada kualitas ekosistem sosial di sekitar ibu. Mengacu pada teori dukungan sosial yang dirumuskan oleh House (1981) dan Sarafino (2007), terdapat empat dimensi dukungan utama yang wajib dipenuhi oleh lingkungan terdekat, khususnya suami. 

Pertama, dukungan emosional yang melibatkan ekspresi empati, perhatian, kepedulian, dan kehangatan, di mana suami bertindak sebagai pendengar setia bagi keluhan istri guna mengurai beban psikologis. 

Kedua, dukungan instrumental yang berwujud bantuan fisik dan finansial secara nyata, seperti mengalokasikan anggaran gizi dan mengambil alih tugas domestik.

Ketiga, dukungan informasional yang berbentuk pemberian saran, petunjuk, atau rujukan edukasi valid untuk memecahkan kendala klinis menyusui. 

Keempat, dukungan penghargaan yang melibatkan ungkapan rasa hormat, penilaian positif, serta apresiasi terhadap performa istri demi membangun rasa percaya diri sebagai ibu baru.

Sinergi antara tuntunan agama dan teori psikososial ini melahirkan sebuah gerakan modern yang dikenal sebagai breastfeeding father atau Ayah ASI. Istilah ini merujuk pada keterlibatan aktif suami dalam memberikan dukungan total, baik secara mental maupun fisik, selama proses menyusui berjalan. Bukti ilmiah pada riset tahun 2024 mengungkapkan fakta bahwa 97,5% Ayah ASI terbukti berhasil meningkatkan kelancaran produksi ASI pada pasangannya.

Secara biologis, kehadiran dan kepedulian suami berdampak langsung pada penurunan tingkat hormon stres ibu. Kondisi psikologis yang tenang dan bahagia ini akan menstimulasi kelenjar hipofisis di dalam otak untuk melepaskan dua hormon laktasi utama, yaitu prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin bekerja memproduksi ASI di dalam payudara, sementara oksitosin memicu refleks pengeluaran ASI (let-down reflex) sekaligus memberikan efek relaksasi mendalam pada tubuh ibu.

Melalui kontribusi nyata dari seorang Ayah ASI, gangguan suasana hati pasca melahirkan seperti baby blues dapat dicegah secara efektif. Sindrom baby blues yang ditandai dengan perasaan sedih, cemas, dan emosi tidak stabil ini umumnya muncul pada hari ketiga hingga keempat pasca persalinan dan rentan bertahan hingga hari ke-14 jika ibu dibiarkan tanpa pendampingan.

Guna menangkal hal tersebut, suami dapat menerapkan aksi nyata di rumah, dimulai dari edukasi mandiri dengan aktif mempelajari teknik menyusui dan manajemen kendala laktasi. Suami juga harus mengelola regulasi stres istri melalui pemberian pijatan relaksasi pada area bahu atau kaki yang pegal, serta senantiasa hadir menemani saat proses menyusui di malam hari. 

Disisi lain, pembagian tugas domestik seperti memasak, menyapu, atau mencuci pakaian perlu diambil alih agar waktu istirahat istri terpenuhi. Perawatan bayi secara kolaboratif seperti bergantian menggendong, menyendawakan bayi setelah menyusu, mengganti popok, memandikan, dan menidurkan anak harus menjadi kebiasaan baru. Terakhir, pemenuhan nutrisi unggul harus dipastikan dengan menyediakan makanan bergizi, kecukupan cairan harian, serta asupan pencetus laktasi alami seperti daun katuk, daun kelor, tahu, dan tempe.

Pada skala kesehatan masyarakat yang lebih luas, keberhasilan pemberian ASI eksklusif berkorelasi erat dengan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan rumah tangga. Dalam indikator program kesehatan, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama diakui sebagai salah satu pilar utama PHBS keluarga. Studi epidemiologi membuktikan adanya hubungan linier yang signifikan antara sikap positif ibu terhadap PHBS, kedisplinan memantau pertumbuhan melalui penimbangan balita secara berkala di posyandu, dan status gizi anak yang prima. 

Ibu yang konsisten menjaga kebersihan diri serta sanitasi lingkungan memiliki peluang keberhasilan menyusui yang jauh lebih tinggi. Sinergi antara praktik higienis PHBS dan kemurnian nutrisi imunologis dari ASI terbukti secara klinis mampu menurunkan risiko penyakit infeksi akut seperti diare, sekaligus menjadi modalitas paling efektif dalam memutus mata rantai kasus stunting pada balita.

Sebagai simpulan, menyusui bukanlah agenda tunggal seorang wanita, melainkan sebuah proyek besar keluarga yang memerlukan kerja sama tim yang solid antara suami dan istri. Konsep breastfeeding father adalah manifestasi nyata bahwa pemenuhan hak gizi anak adalah tanggung jawab bersama.

Melalui integrasi pemahaman teologis yang inklusif, pemenuhan dukungan sosial empat dimensi, serta komitmen menjaga kebersihan lingkungan melalui PHBS, pemenuhan target capaian ASI eksklusif dapat diakselerasi secara optimal demi melahirkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan bebas dari ancaman stunting.

Editor : Ade Hikma

Komentar

Berita Terkait